Skip to main content

TEST & COMMISIONNING BW 500 dan BELT SCALE (WEIGHING INSTRUMENT) | INSTRUMENT PART 18

 Pada bagian ini, saya mungkin akan sedikit sharing mengenai test and commisionning BW 500 (Transmitter) dan Belt Scale (Sensor) SIEMENS untuk produk Weighing.

Belt Scale Idler

Note : Pengetahuan saya mengenai produk weighing masih sangat terbatas, saya akan sharing berdasarkan apa yang saya pahami dan lakukan di lapangan saja.

Variabel instrument tidak hanya menyangkut 4 hal (P, T, F, L), tapi segala sesuatu yang dapat diukur secara fisis dan dikonversi menjadi sinyal listrik, itu dapat menjadi variabel instrument. Dalam bahasan kali ini, akan dibahas system weighing (berat). Di dalam sistem weighing, pengukuran tidak hanya diaplikasikan pada bidang pengukuran statis, tapi juga dalam bidang pengukuran dinamis (beban/massa yang berjalan). Contoh nyatanya adalah pengukuran berat massa yang melewati konveyor.

Hal yang kita perlu pahami terlebih dahulu adalah mengenai jenis konveyor yang terpasang. Untuk weighing system sendiri, aplikasinya hanya dapat digunakan pada belt scale. Karena dulu saya pernah memiliki pengalaman di pabrik PKS (Pabrik Kelapa Sawit), saya melihat ada 2 jenis conveyor yang paling banyak digunakan. Pertama Screw Conv. dan Kedua Scrapper Bar Conv. . Dua jenis conveyor ini tidak dapat menggunakan instrument weighing jenis idler karena alas conveyor ini bersifat statis. 

Belt Conveyor

Screw Conveyor


Scrapper bar conveyor

Setelah kita memahami jenis conveyor yang dapat diaplikasikan, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana sistem pengukuran weighing ini. Prinsipnya sederhana, berat yang melewati sensor (load cell) akan dikalikan dengan laju kecepatan belt. Oleh karena itu pada sistem ini diperlukan speed sensor untuk mengukur kecepatan linear belt.

Rate (ton/jam) = Weight (kg/m) x Speed (m/s)
Rate (ton/jam) = (Weight x 0,001 kg/ton) x (Speed x  1 jam / 3600 s) 

Untuk formulanya hanya sesederhana itu.


Installation

Nah intalattion ini salah satu hal yang paling penting. Hasil pengukuran nantinya akan sangat dipengaruhi oleh installation (mekanikal).
Panduan lengkap instalasi bisa dilihat pada manual/datasheet MSI Belt Scale :


Inti dari prosedur instalasi itu sebenarnya hanya satu :
Memastikan tinggi 3 idler sebelum dan sesudah belt scale sejajar dengan bantuan benang (idler alignment) .



Test and commisionning.

Untuk test and commisioning, langkahnya sangat sederhana dan dapat dilihat di manual/datasheet BW 500 :


Intinya hanya 3 : Programming, Balancing, dan Calibration

1. Pastikan kabel eksternal dari Junction Box ke BW 500 sudah terpasang. (Kabel dari junction box ke BW 500 tidak disediakan oleh Siemens). 
Note :
*) 1 Kabel 6 wire shielded untuk 2 load cell
**) 1 Kabel 4 wire shielded untuk RBSS Speed Sensor

2. Koneksikan kabel Load Cell dan RBSS Speed Sensor ke pin Junction Box. Perhatikan warna kabel dan keterangan pada masing-masing terminal.

3. Koneksikan BW 500 dengan power AC/DC, dan kabel dari junction box. Perhatikan warna kabel dan keterangan pada pin BW 500. Pastikan kembali wiring sudah benar dan jangan lupa untuk koneksikan shield masing-masing kabel.

4. Setelah wiring sudah benar, langkah selanjutnya yang kita lakukan adalah programming BW 500. Masukkan masing-masing nilai parameter sesuai form yang diisi oleh user.

5. Setelah melakukan programming, lakukan load cell balancing.
5.1 Angkat belt conveyor yang berada di atas belt scale
5.2 Pilih parameter P295 pada BW 500.
5.3 Ketika ada perintah “Place weight at cell B and press ENTER“, letakkan batu timbang pada sisi load cell B, kemudian tekan enter.
5.4 Lakukan sebaliknya pada load cell A.
5.5 Setelah Balancing selesai, turunkan kembali belt conveyor.

6. Setelah itu lakukan Zero Calibration. Zero Calibration bertujuan agar BW 500 menghitung berat kosong rerata belt conveyor, sehingga BW 500 hanya menghitung beban batu bara yang lewat.
6.1 Pastikan kondisi conveyor kosong dan tidak ada beban diatasnya.
6.2 Jalankan conveyor
6.3 Tekan tombol Zero pada BW 500 dan tunggu sampai BW 500 menunjukkan angka 100%.

7. Setelah lakukan Zero Calibration, lakukan Span Calibration. Span Calibration bertujuan untuk kalibrasi Belt Scale saat diberi beban yang diketahui jumlahnya. Disini kami menggunakan 2 batu timbang dengan berat total 16,26 kg. Note : Berat batu timbang untuk span calibration diinput pada parameter P017. Gunakan data berat dan jarak rerata antar inder (test load : 16,26 kg, idler spacing : 1,2 meter)
7.1 Pastikan kondisi conveyor kosong dan tidak ada beban diatasnya.
7.2 Letakkan batu timbang tepat di tengah gantungan belt scale.
7.3 Jalankan conveyor
7.4 Tekan tombol Span pada BW 500 dan tunggu sampai BW 500 menunjukkan angka 100%.

Belt Scale (kanan) dan speed sensor (kiri)

Batu timbang untuk kalibrasi


Terimakasih.

Comments

Popular posts from this blog

Pengalaman Management Trainee (Mill) di PT. KLK Agriservindo, Berau, Kalimantan Timur (Juli 2020) | PART 3

Bimbang.... Yogyakarta (Juli 2020) Setelah second stage interview KLK, sebenarnya saya mengikuti 2 final interview di perusahaan lain (bukannya saya sombong, hanya memberikan point of view lain aja). Satu pabrik kertas terbesar di Indonesia yang berlokasi di Riau, satunya lagi di salah satu perusahaan refurbishment Valve di Tangerang. Keduanya juga memberikan penawaran kepada saya, namun pertimbangan terbesar saya waktu itu ada 2 :  Jabatan dan Gaji Ya wajar aja, saya mencoba realistis dengan money oriented ketika saya masih fresh graduate. "Perusahaan asing nih, ntar bisa jadi manager juga. Masalah lokasi di tengah hutan, urusan belakangan aja lah, toh juga dulu kecilnya dekat kebun sawit", pikir saya. Tanpa pikir panjang (dengan pertimbangan selama 2 hari wkwk),hari H ketika saya menerima email kelulusan dari KLK, saya langsung menolak 2 perusahaan tersebut dan memilih KLK. Tahap selanjutnya adalah offering secara virtual melalui Microsoft Team sehari setelah email dikirim....

Pengalaman Management Trainee (Mill) di PT. KLK Agriservindo, Berau, Kalimantan Timur (Juli 2020) | PART 1

Kerja di KLK ?                    Sebenarnya ini salah satu pengalaman yang berkesan dalam hidup saya, walau akhirnya tidak jodoh dengan perusahaan bersangkutan. Bukan berarti semua yang berkesan harus berbuah manis kan? Hehehe.. Juli 2020, Yogyakarta           Saya diundang untuk interview (via Microsoft Team) atas lamaran yang saya apply. Ya, PT. KLK Agriservindo, perusahaan asal Malaysia yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolahan hasil kelapa sawit. Saat itu saya melamar posisi MT Mill (Pabrik), karena saya rasa....ya lebih tepat aja dengan latar belakang studi saya wkwk.  Beginilah proses interviewnya yang masih saya ingat : Pukul 09.00 (First Stage Interview)           Saya mendapat kesempatan untuk interview dengan salah satu petinggi KLK, Bapak tersebut warga negara Malaysia. Beliau meminta saya untuk memperkenalkan diri dengan Bahasa Inggris. "Good ...

Membuat PLC dan HMI program untuk flowmeter | INSTRUMENT PART 7

PLC and HMI Programming Using TIA PORTAL V16 SIEMENS Dah lama nih gak nulis tentang instrumen lagi. Di bagian ini saya akan mencoba membuat program PLC dan HMI untuk pengukuran laju aliran menggunakan flow transmitter tentunya. Oiya saya mau cerita sedikit tentang instrumen khususnya PLC  wkwk. Dulu pas kuliah seperti yang pernah saya sampaikan, peminatan saya sebenarnya abu-abu wkwk. Abu-abu dalam artian saya selalu cari aman kalau ngambil mata kuliah. Berhubung PLC merupakan mata kuliah peminatan dan saya dari dulu merupakan orang yang benci segala sesuatu yang berbau "programming", akhirnya saat itu saya putuskan untuk tidak ambil matkul PLC wkwk. Nah baru setelah lulus, saya mengikuti pelatihan PLC di CITA (Center for Instrumentation and Automation) Institut Teknologi Bandung. Awalnya saya mengikuti dengan sedikit sulit (karna saya lemah di logika wkwk), namun tetap bisa mengikuti pelah-pelan lah wkwk. ITB 2019 Berhubung Siemens tidak memiliki produk data logger, sementar...