TEKNIK FISIKA (UGM)

TEKNIK FISIKA UGM

Oke pada bagian ini izinkan saya membahasa mengenai jurusan saya. Disclaimer dulu, tulisan ini adalah full berasal dari opini saya pribadi, apa yang saya alami, apa yang saya rasakan, dan semuanya berasal dari pengalaman pribadi. Jadi kalau ada perbedaan sudut pandang, mohon dimaklumi.


Mengapa saya dulu mengambil jurusan ini?

      Jawabannya simple, saya tidak keterima pilihan pertama di FTTM ITB. Kenapa saya memasukkan pilihan ini di opsi kedua SBMPTN? Jawabannya karna salah satu anggota keluarga saya lulusan teknik fisika dan sudah berkarir dibidang oil and gas. Kenapa saya memilih Teknik Fisika UGM? Jawabannya : Passing grade FTI ITB itu diatas FTTM ITB, tidak rasional membuat pilihan kedua dengan passing grade lebih tinggi dari pilihan pertama, itu namanya bunuh diri ahahaha. Oke itulah alasan kenapa saya menjatuhkan pilihan kedua Teknik Fisika UGM, karna passing gradenya dibawah FTTM ITB. Pengumuman SBMPTN pun datang juga… dan ya, saya keterima di Teknik Fisika UGM. Rasanya? Saya sedih, saya nangis, bukan karna saya sombong, tapi in that moment, tidak pernah terlintas sedikitpun dipikiran saya bakal keterima di pilihan kedua, karna untuk perjuangan saya yang saat itu sudah mulai persiapan SBMPTN dari kelas 11, hasil itu dibawah ekspektasi saya. Oke singkatnya saya berusaha menerima kelulusan itu seiring berjalannya waktu, dan saya mulai berkuliah di Teknik Fisika UGM.

     Apa itu Teknik Fisika (secara awam)? Konsentrasinya apa aja sih?

Bagi orang awam yang tidak mengerti, pasti banyak yg bingung sebenarnya jurusan ini tuh apa sih, prospek kerjanya gimana. Oke saya jelaskan secara simple. Beberapa orang menyebut jurusan ini dengan istilah General Engineering. Dari kata “general”, dapat disimpulkan bahwa jurusan ini mempalajari ilmu Teknik secara umum. Untuk konsentrasinya, berdasarkan apa yang ada di jurusan saya, ada 3 : Instrumentasi, Fisika Bangunan, dan Energi Baru & Terbarukan.A

Apa itu Teknik Fisika (secara komprehensiv)?

Oke izinkan saya menjawab bagian ini secara detail berdasarkan apa yang saya alami. Kita ambil salah satu bidang, yaitu Instrumentasi. Instrumentasi itu simpelnya adalah system pengukuran, pemantauan dan pengendalian suatu proses, agar input yang diproses dapat menghasilkan output yang sesuai dengan keinginan kita, terlepas dari apapun disturbance atau gangguan yang ada. Oke saya coba tarik instrumentasi ini ke mata kuliah yang bakal di pelajari selama kuliah. Beberapa device instrument di antaranya : Sensor (untuk mengukur variable yang ingin dipantau/dikendalikan), Valve (Sebagai penggerak), dan Controller (sebagai otak/pemikir). Kita coba tarik ke contoh simple, kita memanaskan air untuk membuat the. Variabel yang akan diukur : Suhu Teh, Sensornya : jari kita, actuator/penggerak : tangan kita yang mematikan kompor jikalau kita rasa suhu nya sudah pas, controller nya : otak kita. 

Oke dari system comprehensive tersebut, pelajaran yang berguna selama kuliah diantaranya :

-          Sensor : Rangkaian Listrik, Sistem Pengukuran, Termodinamika

-          Aktuator : Gambar Teknik, Sistem Aktuator

-          Controller : Teknik Kontrol Otomatis, PLC

Disamping mata kuliah di atas di atas, ada satu hal yang menurut saya yang penting dan krusial : Engineering Sensing. Ini bukan didapatkan serta merta dalam satu mata kuliah, tapi pemahaman secara komprehensiv. Oke kita kasi 2 contoh kasus real.

-          Kita ingin mengukur suhu gas didalam suatu pipa, Dimana pipa itu berisi hydrocarbon mixture. Menurut kalian, dimana sensor suhu harus ditempatkan?

à Ya, sensor harus dipasang di atas? Kenapa tidak dipasang dibawah? Jawabannya simple, ketika ada campuran gas dan cairan, gas memiliki massa jenis yang lebih rendah, maka akan selalu berada di atas cairan.

-          Didalam sebuah flare/exhaust line, ada sebuah valve pengatur tekanan. Menurut kalian, apa parameter yang crucial di line flare ini?
à Jawabannya adalah pressure. Mengapa? Jika tekanan di dalam sistem turun menjadi negatif (vakum) atau bahkan sama dengan tekanan atmosfer, udara luar dapat terisap masuk ke dalam pipa. Itulah kenapa harus ada regulator, untuk menjaga tekanan selalu didalam nilai positive pressure

Dua contoh di atas, tidak diajarkan ketika kuliah. Yang ingin saya sampaikan disini adalah, Teknik Fisika itu harus bisa berpikir secara comprehensive, bukan hanya dari segi technical alatnya, tapi juga dari segi fenomena fisis/kimia apa yang terjadi, kenapa harus A, kenapa harus B, kenapa harus C, semuanya itu harus ada dasar dan pertimbangan yang jelas.  

4.    Karir dan Peluang Kerja

Mungkin section ini adalah section yang paling crucial untuk dibahas disini (menurut saya). Oke langsung saja ke intinya.

After graduation, saya sempat menganggur selama 8 bulan. Lulusan Teknik UGM? Tidak ada jaminan sama sekali. Ditambah pada momen itu, saya masih bimbang dalam menentukan pilihan karir. Yang ada di otak saya saat itu hanya satu; “Yang penting kerja dulu”. Tidak mencoba idealis, tapi juga realistis. Apapun yang Nerima saya, akan saya ambil. Lamar yang tidak sesuai jurusan? Sudah saya coba. Lamar posisi yang non teknikal? Itupun sudah saya coba. Dan hasilnya, first job saya malah dibidang pengolahan kelapa sawit, posisi manajerial yang tidak ada kaitannya dengan kuliah saya. Setelah gagal dalam evaluasi training, ada tawaran di salah satu vendor Instrument. Tanpa pikir panjang, langsung saya ambil walau dengan penghasilan secukupnya.

Sebenarnya dari hasil analisis saya terhadap teman2 satu angkatan, tidak banyak memang yang berkarir sesuai dengan jurusan, di samping itu pasti ada faktor eksternal berupa tuntutan untuk mencukupi kebutuhan hidup terlepas dari apapun jenis pekerjaannya. Dan saya mengerti bahwa semua orang pasti mengutamakan kerealistisan. Ada yang switch career ke bidang IT (Software & Data), ada yang berkarir ke bidang manajerial, ada yang berkarir ke perbankan, dan masih banyak lagi.

Oke kembali ke pengalaman saya, selama saya bekerja di vendor, saya belajar banyak hal dan mendalami dunia instrument, mulai dari pemilihan device, pembuatan quotation/penawaran barang, komunikasi ke client, hingga pengetesan dan pengujian alat instrument di lapangan. Dalam mindset saya saat itu hanya satu “cari ilmu sebanyak2 nya, uang urusan belakangan”. Namun, karena ketidakjelasan prospek karir di company tempat saya bekerja, akhirnya saya memutuskan untuk switch carrer ke bidang IT di tahun 2023.

5.    Kembali ke bidang Instrumentasi

Setelah spent waktu kurang lebih setahun dalam perjalanan switch carrer (sertifikasi dan kerja sebagai software developer), akhirnya saya kembali ke bidang lama yang sudah saya tekuni, as Instrument Engineer. Puji Tuhan, saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja di bidang engineering pertama saya. Dan terlebih lagi, sector Project company saya adalah mostly oil and gas. Pada momen inilah, pengalaman pertama saya sebagai Instrument Engineer (Design) dimulai.

Oke Kembali ke pertanyaan utama. Apakah teknik físika memiliki prospek kerja yang bagus?

Respon saya : Bukan hanya bagus, tapi sangat bagus.  Namun  ada sisi luck/rejeki nya juga. Ada yang baru lulus langsung keterima di company gede, ada yang baru lulus dapat rejeki kerja di company vendor dulu seperti saya.  Ambil sisi positifnya saja, jika memang ingin bekerja as Instrument Engineer, gapapa kerja di company kecil dulu sembari mencari ilmu dan pengalaman. Percayalah, rejeki itu akan mengikuti jika kita memiliki kapasitas yang cukup dan skil yang memadai.

Mungkin di part berikutnya saya akan menceritakan pengalaman as Instrument Engineer saya dari sejak awal bekerja hingga sekarang.

Semangatt...

Comments